Sunday, 17 July 2022

Cerbung-Ai De Aomi-5


 
“Xian sheng men, nai nai guo shi.” ( Tuan, tuan, nenek meninggal)

“Shen me? Nai nai guo shi?” ( Apa? Nenek meninggal?

“Shei gao su nin nai nai guo shi?” (Dari mana kamu tahu nenek meninggal?)

“Shi xian sheng ni de lin ju gao su wo de.” (Dari tetangganya tuan)

“Hao de wo zhi dao le, xie xie ni!” (Baiklah, terima kasih banyak ya)

Aku mendengar percapakan Akuang dengan pelayan itu, mereka terlihat seperti seorang majikan dan pelayannya, hanya saja aku tak memahami apa maksud dari perkataan mereka. Tiba-tiba saja Akuang memintaku segera bergegas, ternyata neneknya meninggal. Nenek yang ku lihat bersamanya waktu itu ternyata nenek kandungnya. Hanya saja dia tidak mau meninggalkan rumah yang telah lama ia tempati. Rumah yang penuh dengan kenangan bersama Papanya Akuang.

Papa Akuang memutuskan untuk pindah ke tempat yang jauh lebih layak dan menyehatkan daripada tinggal di rumah tua itu. Sejak bisnis Papanya semakin sukses, mereka pindah namun neneknya tidak bersedia ikut bersama mereka, tetapi Akuang meminta seorang perempuan paruh baya yang tidak punya sanak saudara untuk tinggal bersama neneknya.

Awalnya Akuang tidak mengetahui bahwa nenek itu adalah neneknya, sebab Papanya tidak pernah memberitahukan padanya bahwa neneknya masih hidup. Ia sendiri mengetahui hal itu dari pembantu di rumahnya. Akuang merasa bersalah dan memohon maaf atas perlakuan Papanya terhadap nenek, tetapi nenek sudah memaafkan Papanya Akuang meski tak pernah sekalipun Papanya menemui Ibunya yang tua renta itu.

Saat ini Akuang hanya tinggal bersama Mamanya, sementara Ayahnya tinggal di luar negeri menjalankan bisnisnya yang lain yang tidak bisa diwakilkan oleh orang lain. Sebelumnya Papa Akuang meminta mereka untuk ikut dan tinggal bersamanya di Taiwan, namun Mama Akuang menolak karena tidak suka tinggal di luar negeri. Meski begitu tiap kali perayaan Imlek, papa Akuang pasti kembali ke Indonesia untuk merayakan Imlek bersama keluarganya.

Mama Akuang juga tidak bisa menceritakan apapun perihal neneknya itu, karena sebelumnya mereka telah melakukan kesepakatan bahwa tidak boleh ada yang mengetahui rahasia ini sebab menyangkut jantungnya bisnis mereka. Karena hal itulah Mama Akuang memutuskan hubungan mereka dengan nenek Akuang.

Sampai akhirnya Akuang mengetahui rahasia besar yang di tutupi keluarganya itu. Ternyata nenek Akuang bukanlah nenek kandungnya sebab nenek kandung Akuang telah meninggal bunuh diri karena nenek tirinya tersebut. Takut rahasia ini terbongkar mereka pun merahasiakan ini dari Akuang karena orangtua Akuang sangat paham bagaimana watak anaknya itu.

Nenek kandung Akuang bunuh diri akibat perselingkuhan kakeknya dan perlakuan buruk dari nenek tiri Akuang. Papa Akuang sangat marah dan akhirnya meninggalkan mama tirinya tinggal sendirian. Akuang bertemu neneknya bukanlah hal yang di sengaja, karena Akuang suka menyantuni orang-orang tua yang tidak punya sanak saudara. Ternyata nenek yang di tolong Akuang adalah neneknya meskipun nenek tiri. Akuang sudah menganggap neneknya itu adalah bagian dari keluarganya meskipun ia tahu bahwa nenek yang sangat ia sayangi bukanlah nenek yang baik pada saat itu. Tetapi Akuang melihat penyesalan di wajahnya tulus bahwa ia merasa bersalah atas perlakuannya dulu terhadap nenek kandung Akuang.

Tidak ada satupun yang datang dari keluarga Akuang, hanya tetangga dan orang-orang yang pernah dekat dengan neneknya.

Akuang sangat sedih, aku pun turut merasakan kesedihan yang dialaminya. Kucoba untuk menenangkan dirinya.

“Sudahlah Akuang, jangan terlalu larut dalam kesedihan, aku yakin kok nenek mu pasti diberikan tempat yang sebaik-baiknya oleh Allah, yang terpenting adalah kita tetap mendoakannya."

“Terima kasih banyak ya Jannah, kamu memang perhatian dengan saya. Setelah ini saya akan antar kamu pulang ya. Besok pemakaman nenek, saya berharap Mama mau datang melihat nenek untuk terakhir kalinya.”

Tanpa sengaja Akuang menyandarkan kepalanya ke bahuku. Aku terkejut namun tak ingin membuatnya kaget jika aku bicara, karena saat ini ia memang perlu perhatian. Di sisi lain, kulihat ada Kelly yang memperhatikan ku dengan tatapan sinis. Aku takut, takut dia salah paham padaku.

Ayah menelpon ku kembali. Akuang tersentak dari sandarannya dan mengucap maaf padaku.

“Ma…maafkan saya Jannah, saya tidak sengaja melakukan itu.”

“Enggak apa-apa Akuang, aku paham kok bagaimana perasaanmu saat ini.”

“Ya sudah, mari kuantar kamu pulang.”

Akuang pun mengantarkanku ke rumah. Saat menuju kamar aku terkejut melihat Mama duduk di teras rumah dan melihat sebuah foto dengan meneteskan air mata. Ku samperin Mama dan perlahan mulai ku katakana apa yang terjadi dengan saudara kembarnya itu.

Alhamdulillah Mama tidak syok mendapati kabar itu dan sepertinya Mama mulai membaik. Ia memelukku dengan erat tanpa berkata apa-apa sedikitpun. Saat ku tanya dari mana Mama mendapatkan foto itu, tanpa sengaja ia menemukannya di ruang TV. Aku baru sadar saat itu Ayah melihat fotonya dan aku lupa menyimpannya. Mungkin sudah saatnya Mama tahu yang sebenarnya, tidak apa-apa lah pikirku.

Aku pun melanjutkan langkah kaki ke kamarku dan teringat tatapan sinis Kelly. Besok akan ku jelaskan padanya bahwa kami tidak ada hubungan apa-apa. Mudah-mudahan saja Kelly mau menerima pernyataanku dan Akuang dapat menjalin hubungan baik dengan Mama tirinya.

Waktupun berlalu, hari ini memasuki hari keempat namun Akuang masih belum datang ke sekolah. Mungkin dia masih syok dengan kematian neneknya. Namun, tiba-tiba saja Jackson berlari dengan sangat kencang dan memanggil-manggil namaku.

“Jannah. Jannah. Jannah,” teriak Jackson dari luar kelas.

“Ada apa Jackson, ada apa? Tanyaku heran.

“Coba kamu baca surat ini, apa sebelumnya Akuang pamit padamu. Atau apa dia cerita kemana dia akan pergi?”

“Enggak, dia gak ada ngomong apa pun. Bukankah neneknya baru saja meninggal. Dan dia masih berkabung kan?”

“Ya, tapi …. Sudahlah, kamu baca dulu isi suratnya.”

Karena penasaran, aku pun membaca isi surat itu.


Teruntuk rasa sayangku selama ini Nur Jannah.

Terima kasih karena sudah hadir kembali di saat aku mulai rapuh dan bingung dengan keadanku sendiri.

Terima kasih mau menemani hari-hari ku yang sunyi.

Aku tahu bagaimana perasaanku saat ini padamu, aku tak ingin melukaimu jauh lebih dalam karena rasa cintaku padamu.

Aku merasa bersalah atas kematian Vio saudaramu.

Aku masih belum bisa memaafkan kesalahanku.

Maafkan aku yang pergi tanpa memberi kabar

Maafkan aku yang meninggalkan tanda tanya di hatimu

Dan maafkan aku juga atas perhatian yang ku berikan padamu

Aku mencintaimu tapi tak ingin kau terluka dan berharap jauh padaku

Agama dan budaya kita berbeda, ku putuskan saat ini aku lebih baik pergi dan tak akan pernah kembali.

Satu hal yang perlu kamu tahu bahwa cintaku bukanlah akhir dari segalanya. Rasa cinta ini kan ku bawa kemanpun aku pergi, karena aku pernah berjanji pada diriku sendiri aku akan menjadi budhist sejati …


“Jackson ini …. “

“Ya, itulah Akuang. Tidak ada yang bisa menebak apa yang akan diperbuatnya Jannah. Aku paham bagaimana Akuang, dan aku tak menyangka dia akan mengambil keputusan secepat ini. Dan kamu tahu Jannah, tempat dimana dia akan menjadi seorang budhist sudah ku tanyakan pada teman-temanku bahwa dia tidak ada disana.”

“Maksudmu saat ini dia menghilang? Begitukah Jackson?”

“Ya. Sepertinya begitu.”

Aku yang mendengar kabar dan mendapati surat seperti seakan-akan tak percaya dengan apa yang telah terjadi. Mendadak semangatku hilang. Dunia seperti terhenti sejenak dan seolah memberikan waktu untukku mulai berpikir sebelum ini semua terlanjur dengan rasa larut, larut dalam cinta. Apakah rasa ini salah? Bukankah Tuhan menganugerahkan rasa ini dengan ikhlas tanpa paksaan dan semua adalah skenario tuhan.

Ai de Aomi ( Misteri Cinta)







Tamat











No comments :

Post a Comment

Back to Top