
Halo sahabat Maya semuanya, gimana nih kabar kalian, sehat? Atau lagi bingung nih mau nulis apa, daripada bingung yok baca tulisanku yang sederhana ini. Kisah ini sangat menyentuh aku banget sahabat, sebagai seorang guru dan ibu dari anak-anak ku, aku tuh terenyuh melihat perjuangan ibu Gunarti ini sahabat. Yuk ah cus baca aja.Ia bukan pejabat. Bukan orang kaya. Bahkan sejak kecil, ia tidak menempuh pendidikan formal. Tetapi suaranya mampu membuat banyak orang menoleh.
Namanya Gunarti. Ia adalah perempuan dari komunitas Sedulur Sikep yang hidup di kawasan Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah. Gunarti berasal dari Kalioso, Kabupaten Pati, dan kehidupannya sangat dekat dengan tanah, sawah, serta masyarakat di sekitarnya. Sejumlah profil menyebut rumah dan aktivitas kehidupannya berada di kawasan Sukolilo, Kabupaten Pati.
Gunarti lahir pada 21 April 1974 di Sukolilo, Pati. Ia menjalani kehidupan sebagai petani sekaligus ibu rumah tangga. Ia memiliki tiga anak dan sejak kecil dibesarkan dalam kehidupan masyarakat Sedulur Sikep yang sangat dekat dengan alam dan pertanian.
Mungkin bagi sebagian orang, kehidupan seperti itu terlihat biasa saja, Pergi ke sawah, mengurus keluarga, menanam, memanen, menjalani hari seperti masyarakat desa pada umumnya. Namun semuanya berubah ketika muncul rencana pembangunan dan penambangan di kawasan Pegunungan Kendeng.
Ketika Tanah Bukan Sekadar Tanah
Bagi Gunarti, tanah bukan sekadar sebidang lahan. Tanah adalah tempat kehidupan berlangsung, di tanah itu masyarakat menanam padi, dari sana keluarga mendapatkan penghasilan. Air dari kawasan karst juga memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat, karena itulah, ketika kawasan Kendeng menghadapi ancaman aktivitas pertambangan dan pembangunan pabrik semen, Gunarti memilih untuk bersuara.
Ia kemudian mengajak perempuan-perempuan di desanya untuk memahami persoalan yang sedang terjadi, perjuangan masyarakat Kendeng berlangsung panjang dan melibatkan berbagai aksi serta proses hukum. Bagi Gunarti, persoalan ini bukan hanya tentang dirinya. Ada anak-anak, ada petani, ada sawah, ada sumber air, dan ada generasi yang akan datang.
Seorang Ibu yang Memikirkan Masa Depan
Mungkin inilah yang membuat kisah Gunarti terasa begitu dekat. Ia tidak berbicara dari balik meja yang nyaman, ia berbicara sebagai seorang ibu, seorang petani, seorang perempuan yang setiap hari melihat langsung bagaimana manusia bergantung kepada alam. Ia memahami bahwa ketika alam mengalami kerusakan, masyarakat yang hidup paling dekat dengan alam juga akan merasakan dampaknya.
Dalam sebuah wawancara, Gunarti menjelaskan kekhawatirannya bahwa jika kawasan Kendeng ditambang, sumber mata air dapat terancam dan kehidupan masyarakat akan terkena dampaknya, kalimat seperti itu mungkin terdengar sederhana, tetapi coba kita renungkan. Apa jadinya sebuah keluarga jika sumber airnya hilang? Apa yang terjadi jika sawah tidak lagi dapat menghasilkan? Dan bagaimana dengan anak-anak yang kelak mewarisi tempat tersebut? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat perjuangan Gunarti bukan sekadar cerita tentang seorang perempuan, ini adalah cerita tentang kehidupan.
Tidak Sekolah, tetapi Mau Terus Belajar
Ada bagian dari kisah Gunarti yang menarik untuk direnungkan. Ia tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Sejak kecil, ia dididik keluarganya untuk menjadi petani. Namun keterbatasan pendidikan tidak membuatnya berhenti belajar, ia justru aktif mendampingi anak-anak di lingkungannya. Sejak 1993, Gunarti membuka ruang belajar bagi anak-anak Sedulur Sikep di rumahnya. Ia mengajak anak-anak belajar dengan mengenal kehidupan, lingkungan, bahasa, dan budaya mereka.
Di sinilah kita mungkin perlu mengubah cara pandang kita tentang pendidikan. Pendidikan tidak selalu hanya tentang ijazah, kadang pendidikan juga tumbuh dari kehidupan, dari pengalaman, dari sawah, dari alam, dari kegagalan, dan dari keberanian untuk terus mencari tahu.
Gunarti dan Pelajaran tentang Keberanian
Kita sering berpikir bahwa untuk melakukan sesuatu yang besar, kita harus menjadi orang besar terlebih dahulu, harus punya jabatan, harus punya uang, harus punya banyak pengikut, harus terkenal. Namun Gunarti menunjukkan sesuatu yang berbeda, seseorang yang hidup sederhana pun bisa memiliki kepedulian yang besar. Seseorang yang tidak memiliki jabatan pun bisa menyampaikan suara, dan seseorang yang berasal dari desa pun bisa mengingatkan banyak orang tentang pentingnya menjaga alam. Perjuangan Gunarti juga memperlihatkan keterlibatan perempuan dalam persoalan lingkungan dan kehidupan masyarakat Kendeng. Ia pernah mengajak para ibu di desanya untuk ikut memahami persoalan yang mereka hadapi.
Kita Tidak Harus Menjadi Gunarti
Setelah membaca kisahnya, mungkin kita bertanya: “Lalu, apa yang bisa kita lakukan?” Jawabannya tidak harus sesuatu yang besar, kita tidak harus tinggal di Kendeng, kita tidak harus menjadi aktivis, kita tidak harus berdiri di depan banyak orang, kita bisa mulai dari hal yang sangat sederhana, menjaga kebersihan, menghemat air, menanam pohon, tidak merusak lingkungan, menghargai petani, mengajarkan anak-anak untuk mencintai alam, dan yang paling penting, belajar untuk peduli terhadap apa yang terjadi di sekitar kita.
Sebab terkadang, perubahan tidak dimulai dari orang yang paling kuat, perubahan bisa dimulai dari seseorang yang hanya berkata: “Saya tidak ingin anak-anak saya kehilangan apa yang selama ini menjadi sumber kehidupan mereka.” Karena Tanah Itu Akan Ditinggalkan kepada Generasi Berikutnya. Kita boleh memiliki rumah, kita boleh memiliki tanah, kita boleh membangun banyak hal, tetapi ada satu hal yang perlu selalu kita ingat: kita tidak hidup sendirian di bumi ini. Ada anak-anak yang akan tumbuh setelah kita, ada generasi yang belum lahir.
Mereka akan menerima dunia yang kita tinggalkan, mungkin mereka tidak akan tahu siapa Gunarti, mungkin mereka tidak akan tahu siapa yang pernah berdiri di Pegunungan Kendeng, tetapi mereka akan merasakan apakah lingkungan yang kita tinggalkan masih mampu memberikan air, pangan, udara, dan kehidupan, itulah sebabnya kisah Gunarti Kendeng layak untuk didengar, bukan untuk menjadikan kita semua sama dengannya, tetapi untuk mengingatkan bahwa peduli terhadap tempat kita hidup adalah bentuk sederhana dari mencintai masa depan.
Gunarti mungkin hanya seorang perempuan desa, tetapi dari kehidupan sederhananya, kita belajar sesuatu yang besar bahwa keberanian tidak selalu lahir dari kekuasaan. Kadang ia tumbuh dari sawah, dari rumah sederhana, dari hati seorang ibu, dan dari keinginan agar anak-anaknya masih memiliki tempat yang baik untuk hidup. Dan mungkin, itulah pertanyaan yang seharusnya kita bawa pulang setelah membaca kisahnya: Jika bumi adalah rumah kita bersama, sudahkah kita melakukan sesuatu untuk menjaganya?
Nah, bener kan perjuangan Gunarti itu beda dari Ibu-ibu yang kalian, gimana nih dengan kalian? kira-kira apa yang udah kalian perjuangin untuk keluarga nih... heheheh
Namanya Gunarti. Ia adalah perempuan dari komunitas Sedulur Sikep yang hidup di kawasan Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah. Gunarti berasal dari Kalioso, Kabupaten Pati, dan kehidupannya sangat dekat dengan tanah, sawah, serta masyarakat di sekitarnya. Sejumlah profil menyebut rumah dan aktivitas kehidupannya berada di kawasan Sukolilo, Kabupaten Pati.
Gunarti lahir pada 21 April 1974 di Sukolilo, Pati. Ia menjalani kehidupan sebagai petani sekaligus ibu rumah tangga. Ia memiliki tiga anak dan sejak kecil dibesarkan dalam kehidupan masyarakat Sedulur Sikep yang sangat dekat dengan alam dan pertanian.
Mungkin bagi sebagian orang, kehidupan seperti itu terlihat biasa saja, Pergi ke sawah, mengurus keluarga, menanam, memanen, menjalani hari seperti masyarakat desa pada umumnya. Namun semuanya berubah ketika muncul rencana pembangunan dan penambangan di kawasan Pegunungan Kendeng.
Ketika Tanah Bukan Sekadar Tanah
Bagi Gunarti, tanah bukan sekadar sebidang lahan. Tanah adalah tempat kehidupan berlangsung, di tanah itu masyarakat menanam padi, dari sana keluarga mendapatkan penghasilan. Air dari kawasan karst juga memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat, karena itulah, ketika kawasan Kendeng menghadapi ancaman aktivitas pertambangan dan pembangunan pabrik semen, Gunarti memilih untuk bersuara.
Ia kemudian mengajak perempuan-perempuan di desanya untuk memahami persoalan yang sedang terjadi, perjuangan masyarakat Kendeng berlangsung panjang dan melibatkan berbagai aksi serta proses hukum. Bagi Gunarti, persoalan ini bukan hanya tentang dirinya. Ada anak-anak, ada petani, ada sawah, ada sumber air, dan ada generasi yang akan datang.
Seorang Ibu yang Memikirkan Masa Depan
Mungkin inilah yang membuat kisah Gunarti terasa begitu dekat. Ia tidak berbicara dari balik meja yang nyaman, ia berbicara sebagai seorang ibu, seorang petani, seorang perempuan yang setiap hari melihat langsung bagaimana manusia bergantung kepada alam. Ia memahami bahwa ketika alam mengalami kerusakan, masyarakat yang hidup paling dekat dengan alam juga akan merasakan dampaknya.
Dalam sebuah wawancara, Gunarti menjelaskan kekhawatirannya bahwa jika kawasan Kendeng ditambang, sumber mata air dapat terancam dan kehidupan masyarakat akan terkena dampaknya, kalimat seperti itu mungkin terdengar sederhana, tetapi coba kita renungkan. Apa jadinya sebuah keluarga jika sumber airnya hilang? Apa yang terjadi jika sawah tidak lagi dapat menghasilkan? Dan bagaimana dengan anak-anak yang kelak mewarisi tempat tersebut? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat perjuangan Gunarti bukan sekadar cerita tentang seorang perempuan, ini adalah cerita tentang kehidupan.
Tidak Sekolah, tetapi Mau Terus Belajar
Ada bagian dari kisah Gunarti yang menarik untuk direnungkan. Ia tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Sejak kecil, ia dididik keluarganya untuk menjadi petani. Namun keterbatasan pendidikan tidak membuatnya berhenti belajar, ia justru aktif mendampingi anak-anak di lingkungannya. Sejak 1993, Gunarti membuka ruang belajar bagi anak-anak Sedulur Sikep di rumahnya. Ia mengajak anak-anak belajar dengan mengenal kehidupan, lingkungan, bahasa, dan budaya mereka.
Di sinilah kita mungkin perlu mengubah cara pandang kita tentang pendidikan. Pendidikan tidak selalu hanya tentang ijazah, kadang pendidikan juga tumbuh dari kehidupan, dari pengalaman, dari sawah, dari alam, dari kegagalan, dan dari keberanian untuk terus mencari tahu.
Gunarti dan Pelajaran tentang Keberanian
Kita sering berpikir bahwa untuk melakukan sesuatu yang besar, kita harus menjadi orang besar terlebih dahulu, harus punya jabatan, harus punya uang, harus punya banyak pengikut, harus terkenal. Namun Gunarti menunjukkan sesuatu yang berbeda, seseorang yang hidup sederhana pun bisa memiliki kepedulian yang besar. Seseorang yang tidak memiliki jabatan pun bisa menyampaikan suara, dan seseorang yang berasal dari desa pun bisa mengingatkan banyak orang tentang pentingnya menjaga alam. Perjuangan Gunarti juga memperlihatkan keterlibatan perempuan dalam persoalan lingkungan dan kehidupan masyarakat Kendeng. Ia pernah mengajak para ibu di desanya untuk ikut memahami persoalan yang mereka hadapi.
Kita Tidak Harus Menjadi Gunarti
Setelah membaca kisahnya, mungkin kita bertanya: “Lalu, apa yang bisa kita lakukan?” Jawabannya tidak harus sesuatu yang besar, kita tidak harus tinggal di Kendeng, kita tidak harus menjadi aktivis, kita tidak harus berdiri di depan banyak orang, kita bisa mulai dari hal yang sangat sederhana, menjaga kebersihan, menghemat air, menanam pohon, tidak merusak lingkungan, menghargai petani, mengajarkan anak-anak untuk mencintai alam, dan yang paling penting, belajar untuk peduli terhadap apa yang terjadi di sekitar kita.
Sebab terkadang, perubahan tidak dimulai dari orang yang paling kuat, perubahan bisa dimulai dari seseorang yang hanya berkata: “Saya tidak ingin anak-anak saya kehilangan apa yang selama ini menjadi sumber kehidupan mereka.” Karena Tanah Itu Akan Ditinggalkan kepada Generasi Berikutnya. Kita boleh memiliki rumah, kita boleh memiliki tanah, kita boleh membangun banyak hal, tetapi ada satu hal yang perlu selalu kita ingat: kita tidak hidup sendirian di bumi ini. Ada anak-anak yang akan tumbuh setelah kita, ada generasi yang belum lahir.
Mereka akan menerima dunia yang kita tinggalkan, mungkin mereka tidak akan tahu siapa Gunarti, mungkin mereka tidak akan tahu siapa yang pernah berdiri di Pegunungan Kendeng, tetapi mereka akan merasakan apakah lingkungan yang kita tinggalkan masih mampu memberikan air, pangan, udara, dan kehidupan, itulah sebabnya kisah Gunarti Kendeng layak untuk didengar, bukan untuk menjadikan kita semua sama dengannya, tetapi untuk mengingatkan bahwa peduli terhadap tempat kita hidup adalah bentuk sederhana dari mencintai masa depan.
Gunarti mungkin hanya seorang perempuan desa, tetapi dari kehidupan sederhananya, kita belajar sesuatu yang besar bahwa keberanian tidak selalu lahir dari kekuasaan. Kadang ia tumbuh dari sawah, dari rumah sederhana, dari hati seorang ibu, dan dari keinginan agar anak-anaknya masih memiliki tempat yang baik untuk hidup. Dan mungkin, itulah pertanyaan yang seharusnya kita bawa pulang setelah membaca kisahnya: Jika bumi adalah rumah kita bersama, sudahkah kita melakukan sesuatu untuk menjaganya?
Nah, bener kan perjuangan Gunarti itu beda dari Ibu-ibu yang kalian, gimana nih dengan kalian? kira-kira apa yang udah kalian perjuangin untuk keluarga nih... heheheh
Posting Komentar
Posting Komentar