Friday, 21 January 2022

Jurus Jitu Menulis Cerpen



Banyak yang mengatakan menulis cerpen itu susah, masa iya sih…nah, berikut ini saya berikan tips dan trik menulis cerpen dan membuat judul yang menarik perhatian pembaca.

1. Perencanaan cerpen

Perencanan cerpen atau mind mapping dapat membantu menghasilkan cerpen yang baik, menarik minat dan perhatian pembaca. Mind mapping ini dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu:

a. Sebanyak 10% difungsikan untuk memberi stimulasi konfik

Kalimat awal atau pembuka kata dalam sebuah cerpen sangatlah penting, karena hal ini dapat memikat minat pembaca. Jika di awal paragraf sudah disuguhi konflik, pembaca bakal terdistraksi pemikirannya. Akan tetapi, konflik diawal hanya 10%, tidak boleh lebih. Cukup dua hingga tiga paragraf saja. Paparkan langsung ke konfliknya, tetapi klimaks tetap harus disembunyikan oleh penulis.

b. Sebanyak 70% untuk pemaparan masalah

Bila pada dua atau tiga paragraf pertama, sudah disuguhi sesuatu yang memikat, teknik selanjutnya adalah mengulur alur secantik mungkin agar pembaca tepengaruh untuk lanjut membaca paragraf demi paragraf. Diawali pengenalan tokoh di zona nyaman, lalu beranjak ke pengenalan masalah, kemudian beri sandungan pada tokoh yang memaksanya keluar dari zona nyaman itu. Di penghujung cerita, berikan klimaks. Klimaks ini memiliki koherensi (keterkaitan) dengan pembukaan pada bagian awal tadi. Pada klimaks ini, biarkan tokoh utama jatuh sejatuh-jatuhnya, lantas menangisi keterpurukannya, merasa hidupnya tidak berguna, patah semangat, hilang akal, tersesat, dll. Giring pembaca untuk ikut merasakan penderitaan tokoh utama.

c. Sisanya, sebanyak 20% untuk memberikan pencerahan atas permasalahan hidup yang dialami     tokoh utama

Dampak dari totalitas penyiksaa terhadap tokoh utama, ketika si tokoh berhasil bangkit dari keterpurukan, berhasil mendapakan cahaya harapan, pembaca akan ikut merasakan roal coaster kehidupan tokoh utama. Pembaca tidak akan tahu bagaimana rasanya bangkit, jika si tokoh utama tidak pernah kita jatuhkan. Pembaca tidak akan mengerti rasanya tertawa bahagia jika sebelumnya si tokoh utama benar-benar merasa tersiksa dengan cucuran air mata. Jangan menjadi penulis yang terlalu menyayangi tokoh hingga memanjakannya dengan permasalahan sepele dan penyelesaian sepele pula.


2. 11 strategi membuat judul memikat

Menurut Feresha Ray dalam bukunya yang berjudul Menulis itu Self Healing Therapy yang terbit pertama kali tahun 2020, ada 11 strategi membuat judul memikat untuk naskah fiksi:

a. Tidak mengikuti tren musiman

Mengikuti tren musiman memang mudah diingat publik, akan tetapi itu hanya bersifat sementara. Sedangkan mengorbitkan sebuah buku itu butuh proses. Jadi, lebih baik hindari judul musiman, agar karya kita diterima publik tidak sekedar semusim, tetapi sepanjang masa, aamiin.

b. Menggunakan bahasa provokatif


Bahasa provokatif adalah bahasa yang bersifat menghasut, mengajak orang lain untuk ikut serta atau berperan aktif dalam melakukan sesuatu. Akan tetapi provokator disini dalam segi positif yaitu bagaimana upaya kita agar pembaca membaca sampai tuntas cerita kita.

Contoh: Surga di Telapak Kaki Ayah.

Pembaca pasti akan bertanya-tanya dan bahkan berkomentar mengenai judul yang kita buat, karena itulah pembaca semakin penasaran dan terprovokasi atas judul kita.

c. Menggunakan kata-kata yang mengandung kontradiktif


Sesuatu yang bertentangan selalu mampu mengusik logika manusia. Karena selain mudah diprovokasi oleh hal kecil, manusia itu punya naluri mudah penasaran dengan hal baru, atau bahkan bersifat paradoks ( berawalan dengan konsep umum, dianggap salah, tetapi sebetulnya mengandung kebenaran).

Contoh: Menangis bertopeng tawa

Ini mengandung pertentangan lazim di masyarakat kita. Dan pertentangan itu kerap membawa rasa penasaran, mengundang pertanyaan.

d. Menunjukkan ciri khas tokoh


Buatlah tokoh yang mempunyai ciri khas, yang tidak dimiliki tokoh cerita lain. Sesuatu yang dapat membuat pembaca mencintai sosok tokoh karena keunikannya, dan mudah diingat pembaca.

Contoh: Mis Martabak

Pembaca akan penasaran mengenai hal ini, apakah sosok tokoh yang diceritakan atau sosok yang menemukan tambatan hatinya saat membeli martabak.

e. Menyebutkan sesuatu yang mengindikasi klimaks cerita

Memberitahukan sedikit cerita, atau jalan cerita pada saat yang menegangkan penting dilakukan tetapi masih merahasiakannya. Maksudnya adalah membuat pembaca ingin mengetahui klimaks cerita tersebut.

Contoh: Segulung Darah Subuh

Ada apa dengan darah di waktu subuh? Mengapa di gulung? Ternyata di klimaks cerita, ada adegan berdarah di saat subuh menjelang, dan kejadian itu menjadi puncaknya segala sandungan-sandungan yang dialami si tokoh utama bertahun-tahun.

f. Judul hanya satu kata

Membuat judul dengan satu kata berpotensi membuat pembaca mengerutkan kening, lalu berujung penasaran dengan isi cerita tersebut.

Contoh: Wed(nge)nesday

Ternyata cerita itu bercerita tentang tokoh “aku” yang selalu kesal setiap kali bertemu hari Rabu.

g. Menggunakan bahasa Inggris

Membuat judul dengan memakai bahasa Inggris tidak ada yang melarang jika kita memahami gramatikal bahasa luar. Dan, bahasa luar terutama bahasa Inggris mereka juga mempunyai kebudayaan berbeda. Suatu ungkapan yang lazim di sini, tidak lazim di sana.

Cinta Monyet misalnya, di masyarakat kita diartikan sebagai cintanya remaja labil yang belum mengerti komitmen. Di luar sana, bukan berarti disamamaknakan dengan Monkey Love. Karena yang benar adalah Puppy Love.

Jadi, boleh sekali membuat judul memakai bahasa Inggris jika memahami budaya luar dan mempelajari gramatikalnya terlebih dahulu.

h. Tidak menipu pembaca

Membuat judul yang menarik memang sangat penting, tetapi perlu diingat bahwa judul harus disesuaikan dengan isi. Pembaca merasa tertipu jika judul jauh dari isi cerita.

i. Tidak membawa SARA dan hal sensitif lain

Sebagai warga Negara Indonesia yang baik dan beradab, tentu saja kita mempunyai keragaman suku, bahasa, budaya, dan bahkan keagamaan. Jadi, jangan pernah menyinggung suatu gologan tertentu hanya untuk menarik perhatian. Jangan sampai karya kita dicekal sebelum beredar.

j. Tidak membuat judul mirip dengan karya yang pernah ada

Judul yang mirip dengan karya yang pernah ada meskipun hal itu murni karya kita sendiri, tetapi masyarakat awam akan beranggapan bahwa kita telah melakukan plagiat.

k. Menggunakan kosakata yang masih jarang digunakan penulis lain

Kosakata yang masih asing di lidah dan mata pembaca, biasanya ampuh menimbulkan rasa ingin tahu. Padahal jika dicari artinya di KBBI, ada sinonim yang sudah biasa dipakai di kebanyakan masyarakat.

Contoh: Hibat Halayuda

Hibat sama maknanya dengan cinta atau kasih sayang. Jika diberi judul Cinta Halayuda terlalu biasa, akan tetapi diubah menjadi hibat lebih terasa bedanya.



3. Contoh Cerpen


Keranda Janji

Karya: Maya Fasindah


“Kak, Emak enggak mau makan dari pagi tadi, lho. Aku udah coba suapin, tetapi Emak tetap diam dan menangis. Mungkin Emak nunggu Kakak yang suapin,” kata Nazla, khawatir.

Nazla, adik ku yang paling kecil, biasa dipanggil Lala. Ia sangat manja pada Emak. Wajar saja dia khawatir, karena ia yang paling dekat dengan Emak. Gadis dengan bola mata cokelat itu kini mulai lesu saat melihat Emak makin lemah di atas kasur. Bibir tipis yang nyaris terkatup sejak hari itu. Wajah sendunya kini mulai tampak. Tangannya gemetar ketika mencuci rambut Emak. Aku berusaha meyakinkan bahwa Emak akan baik-baik saja.

Aku mencoba membuatnya marah, mungkin dengan marah bisa membuat wajahnya sedikit berubah dan setidaknya ada energi yang bangkit dari tubuh mungilnya itu.

“Halah! Bilang aja kalau kau itu udah bosan nyuapin Emak, enggak mau gantian sama aku. Aku, ‘kan, udah ngurusin Emak di rumah sakit. Sekarang di rumah gantianlah kau yang urusin. Gitu aja ngeluh.”

Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Ia hanya mengangguk dan menyuapi Emak lagi. Namun, tetap saja, wanita hebat yang merawat kami selama ini makin menangis. Aku jadi merasa bersalah dengan kata-kataku sendiri. Kutenangkan hati Emak agar tak menangis lagi.

“Emak, maafin aku, ya? Aku enggak bermaksud berkata seperti itu. Yang kuinginkan saat ini agar Emak cepat sembuh dan Lala tidak melemah. Sebab, kalau dia lemah, Emak juga hilang semangat. Maafkan aku, Mak.”

Air mata pun tak sanggup ku bendung lagi. Tumpah ruah begitu saja membasahi wajahku. Emak tetap tidak bersuara. Ia hanya mengangguk dan mencengkeram tanganku. Cengkeraman yang begitu kuat membuatku takut. Takut kehilangannya. Tatapan matanya seolah-olah bicara dan mulutnya bergetar. Tangan dinginnya tak lepas meremas jari-jariku. Sakit, teramat sakit kurasa. Apa yang terjadi dengan Emak saat ini? Tidak biasanya Emak seperti ini. Apa Emak … ah, apa yang kupikirkan? Aku harus berpikiran positif, Emak harus sembuh, harus.

Kucoba mulai pembicaran lagi dengan Emak. Barangkali ia mau bicara.

“Mak, Emak kenapa? Kenapa Emak menangis? Sepertinya Emak sangat lelah. Istirahat, ya, Mak? Tidur. Siapa tahu nanti Emak bangun jadi segar lagi,” seruku sambil mengusap keningnya.

Emak hanya menggeleng. Aku makin takut, karena tubuhnya makin dingin. Kuraih gawai di atas meja dekat kasur Emak. Kuhubungi semua adikku agar langsung datang ke rumah. Aku menyuruh Lala untuk memanggil Bapak yang sedang mengurus ayam kesayangannya di belakang rumah. Namun, ia tak bergerak sama sekali, hanya terpaku duduk di samping kiri Emak. Aku pun hanya mampu berteriak memanggil Bapak, agar Bapak cepat datang.

“Pak, Pak! Cepat ke sini, Pak! Lihat Mak, Pak! Pak…” suaraku seakan menggetarkan seluruh dunia.

“Ya Allah, kenapa sih May? Kenapa teriak-teriak? Nanti tetangga pada datang, Ada apa?”

“Coba panggil bidan Pak, sepertinya Emak demam, cepat Pak, cepat!”

Bapak juga enggak menggubris perkataanku. Bapak memamah tubuh Emak, dan mengatakan bahwa kita semua harus banyak-banyak berdoa dan pasrah pada Allah SWT.

Aku enggak mau tinggal diam, Bapak tetap kuminta untuk memanggil bidan dekat rumah dan memastikan bahwa Emak baik-baik saja. Aku tahu apa maksud Bapak berkata seperti itu. Aku tidak rela. Aku belum siap kehilangan wanita terhebat dalam hidupku.

Sudah 30 menit Bapak pergi untuk memanggil bidan, tetapi tak kunjung datang juga. Sementara Ibu terlihat makin lemah. Tak berapa lama, kudengar suara motor Bapak.

“Alhamdulillah. Kalau gitu, langsung aja, Sus, cek keadaan Emak,” kataku sembari menarik tangan suster paruh baya itu.

“Tubuh Ibu ini dingin. Sepertinya ini bukan demam, Pak.”

“Maksud Suster apa? Suster mau bilang kalau Emak saya mau meninggal gitu, Sus? Disuntik atau diinfus dulu, ‘kan, bisa, Sus! Udah pengalaman merawat pasien, ‘kan? Terus, kenapa suster hanya diam? Jawab, Sus!” kataku dengan nada keras.

“Sabar, Maya, sabar. Maksud Suster ini baik, bahkan dia sudah pengalaman puluhan tahun. Jadi, enggak baik kalau kamu berkata seperti itu!” seru Bapak sembari menepuk-nepuk pundakku.

“Astagfirullah! Maafkan saya, ya, Sus? Saya belum siap menerima ini semua.”

“Enggak apa-apa, Bu. Saya paham, kok, gimana perasaan Ibu sekarang. Saya periksa denyut nadinya, ya, Bu? Mungkin saja masih bisa diinfus.”

Ketika Suster sedang memeriksa denyut nadi Emak, adikku Hartika datang dan langsung memeluk Emak.

“Emak, Ya Allah, apa yang terjadi dengan Emak, Kak? Emak kenapa?” tanya Hartika, mengguncang tubuhku.

“Aku juga enggak tahu Emak kenapa. Dari tadi pagi memang sudah begitu keadaannya. Kita doakan aja Emak cepat sembuh, ya?”

“Tapi, Kak, Emak terlihat seperti ....”

“Hussss …!”

Hartika adikku nomor tiga. Aku anak pertama dari lima bersaudara. Hartika baru saja melahirkan, jadi wajar jika dia tidak pernah ke rumah, karena masa iddahnya belum habis. Tidak seharusnya dia datang. Namun, melihat keadaan Emak, terpaksa aku menyuruhnya datang. Tinggallah dua adik laki-lakiku. Keduanya bekerja di luar kota dan baru tiba esok hari.

Waktu pun makin senja. Namun, Emak belum juga menunjukkan tanda-tanda akan sembuh. Berulang kali suster mencoba mencari nadi untuk memasuk kan jarum infus, tetapi hasilnya nihil. Kami hanya bisa pasrah melihat Emak makin terkulai. Bapak pun mengantar suster itu kembali ke rumahnya. Sekembalinya Bapak, tiba-tiba saja Emak menyebutkan namaku terbata-bata.

“M ... ma ... maa … ya ….”

Aku pun langsung menghampiri Emak dan memeluknya. Emak membalas pelukanku begitu erat dan meminta maaf. Aku hanya mengangguk dan tak dapat berkata apa-apa lagi. Tangisanku membasahi bajunya. Baju kesayangannya, baju daster dengan motif batik hijau memperindah parasnya. Meski kurus dan keriput, Emak terlihat cantik. Aku seakan-akan tak ingin melepas pelukan itu. Pelukan hangat dan terasa damai sekali.

Aku, Bapak, Hartika, dan Lala duduk di samping Emak.

“Mak, tidurlah, Emak semalaman belum tidur dan sepertinya sangat lelah. Nanti kalau Emak bangun, Maya masakin bubur ayam kesukaan Emak,” kataku sambil menangis.

Emak pun mengangguk dan berusaha menuruti kata-kataku. Pegangan tangannya tak lepas dari tanganku. Tanpa terasa, waktu magrib hampir tiba. Bapak pun akan menunaikan ibadah wajibnya terlebih dulu.

“Kalian jaga Emak dulu, ya? Bapak mau salat.”

“Ya, Pak,” jawabku.

Entah kenapa, ketika Emak akan memejamkan mata, aku meminta Emak mengucapkan kalimat syahadat.

“Asyhadu alla ilaaaha illalla….h, waasyhhadu anna muhammadar rasuulullah ….”

Emak mengikuti ucapanku dan langsung tertidur.

Hartika mengagetkanku dengan teriakannya.

“Kak! Sepertinya Emak bukan tidur, tetapi udah ninggalin kita, Kak. Lihat aja tangannya udah enggak genggam jari-jari Kakak lagi.”

Aku langsung memeriksa keadaan Emak. Kupegang tangan Emak berubah hangat yang tadinya sangat dingin. Denyut nadinya pun tidak kurasakan lagi. Kami menangis histeris memanggil-manggil Emak.

“Mak, bangun, Mak! Bangun!” Aku menciumi kening Emak dan akhirnya basah karena cucuran air mata.

Hartika pingsan dan harus dirawat di rumah sakit karena mengalami pendarahan. Aku sangat bingung saat itu. Namun, aku enggak bisa ninggalin Emak. Kupasrahkan Hartika dengan suaminya. Karena teriakanku, suamiku berlari sangat kencang, anak-anak pun menyusul. Memang saat itu anak-anakku tetap di rumah karena harus menyelesaikan PR lebih dulu. Rumahku tak jauh dari rumah Emak, sebab waktu itu Emak yang mencarikan rumah, supaya enggak jauh dari cucu, katanya.

Bapak dan suamiku mengurus semuanya dengan cepat. Tetangga pun sudah berdatangan melayat. Terlebih nenekku, dikabarkan Emak meninggal beliau langsung datang. Ruangan kembali gaduh oleh orang-orang mengaji diselingi isak tangis para pelayat, terutama nenekku. Nenek pingsan saat melihat jenazah Emak. Isak tangis kembali riuh, saudara-saudaraku yang lain pun terlihat bahwa mereka sangat mencintai Emak. Aku masih belum memercayai ini semua. Walau bagaimana pun aku harus ikhlas, karena enggak mau menyulitkan Emak nantinya.

Karena fokus pada Emak, aku melupakan adikku yang lain, Lala. Sejak tadi Ia tak bersuara, bahkan tidak ada air mata yang jatuh di pipi. Apa yang terjadi padanya? Apa ia tidak menyayangi Ibu? Itu tak mungkin terjadi. Mungkin kesedihannya tidak bisa terbayar dengan air mata. Kupeluk dan kubisikkan di telinganya.

“Emak udah enggak sakit lagi, jadi enggak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Lala hanya mengangguk pertanda menyetujui perkataanku. Malam pun makin larut, hanya ada keluarga besar kami. Nenek juga enggak memercayai ini semua, tetapi beliau harus ikhlas merelakan kepergian Emak.

Rasanya ingin sekali kuhentikan perjalanan waktu hingga detiknya tak berputar lagi. Ah, andai aku bisa mengulang waktu kebersamaan dengan Emak, akulah manusia yang paling bahagia di dunia ini. Namun, aku hanya manusia biasa yang tak memiliki kekuatan untuk itu. Aku masih sangat ingat waktu Emak dirawat di rumah sakit. Beliau berjanji padaku akan sembuh dari penyakitnya. Penyakit yang sampai sekarang belum diketahui asal muasalnya dari mana dan penyebabnya apa. Namun, ia yakin bahwa ini semua adalah cobaan terindah dalam hidupnya. Ternyata inilah jawaban itu, janji itu. Janji sembuh dari penyakit yang ditukar dengan keranda. Subhanallah .…

Matahari mulai menyapaku pagi itu. Pagi yang mengubah rutinitasku seratus persen. Biasanya aku sudah seperti setrikaan panas yang harus bolak-balik mengurus anak-anak dan Emak. Meskipun suami membantu, tetapi tetap akulah yang harus menyiapkan semua keperluan Emak. Memandikannya, mengganti popok dewasanya, menyisir rambut, hingga memberikan aroma minyak kayu putih. Beliau suka sekali dengan wangi itu, segar katanya.

Kini, aku hanya bisa memandangi wajahnya untuk terakhir kali. Persiapan untuk memandikan jenazah pun selesai dan aku pun siap memandikannya. Tangan ini gemetar ketika harus mengusap wajah Emak. Matanya terpejam seperti orang yang sedang tidur. Kupandangi wajah itu sepuas hatiku, kelak tak akan terlihat lagi selamamya.

Kedua adikku pun tiba. Aku tahu bagaimana perasaan mereka saat ini. Meskipun mereka laki-laki, tetapi tetap saja, aku bisa melihat raut wajah mereka yang sendu, tidak bersemangat, dan seperti kehilangan tenaga. Tubuh lunglai, mata bengkak. Ini menandakan bahwa mereka telah menangis selama masa perjalanan. Aku tak bisa berbuat banyak, hanya pelukan yang mampu kulakukan untuk mengurangi kesedihan mereka.

Tibalah saat-saat terakhir, saat-saat mengantarkan Emak ke tempat yang paling indah, istirahat terakhirnya. Jantungku berdetak kencang ketika Emak dimasukkan dalam keranda itu. Kakiku kaku. Tubuhku seakan-akan tanpa tulang, tak mampu rasanya membawa diri ini. Aku harus kuat, karena inilah momen terakhirku bersama Emak. Sirine meraung-raung dari mobil jenazah menuju pemakaman.

Wajah itu tak pernah hilang dalam ingatanku, kusimpan di sudut hati yang paling dalam. Terbayang senyum indahmu di langit yang terbentang luas. Apa yang bisa kulakukan saat ini hanyalah membayangkan semringah itu ketika kutatap langit. Dalam kebisuan malam, aku hanya bisa menorehkan tinta yang harusnya kuungkapkan langsung padamu. Emak, aku rindu.







Semoga tulisan ini bermanfaat ya..

Jika Sahabat Maya ingin menghasilkan karya baik itu cerpen, puisi, novel, artikel, dan lain-lain, boleh bergabung bersama saya.



24 comments :

  1. bermanfaat sekali, mbak Maya,...banyak ilmu menulis yang mba share,...lama2 saya bisa gandrung juga, nih, nulis fiksi. thankyou for sharing mba...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah mbak klo bermanfaat, makasih ya mbak nita, yuk buat cerita mbak. hehehe

      Delete
  2. waa cerpennya sukses membuat sy nangis mbak, bagus banget
    terima kasih sharing ilmunya ya mbak maya

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih mbak Dyah. Saya masih belajar juga itu mbak nulisnya, tapi berhasil buat mbak nangis ya, heheheh

      Delete
  3. Tips, trik dan jurus menulis cerpennya daging banget, Mbak Maya. Ceritanya juga bagus..
    Terima kasih sudah sharing.

    ReplyDelete
  4. Waaa ini jadi racun buat saya buat serius didunia per-cerpen-an. Bermanfaat banget ini mba mayaπŸ˜πŸ™.

    ReplyDelete
    Replies
    1. waduh, ini racun dosis apa ya mbak? yuk ah, cuss nulis cerpen mbak. 😁😁

      Delete
  5. Masyaa Allah artikelnya bermanfaat dan karya cerpennya bagus banget Mba.. menginspirasi.. πŸ‘

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, terimakasih banyak mbak Amel.

      Delete
  6. masuk kelas sastra emang mengasikkan y mba maya. bisa belajar cara bikin karya sastra dan bagi2 ilmu terkait penulisan. Ilmu yg bermanfaat mba maya. Trims y

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah mbak jika bermanfaat, ya mbak kelas sastra memang gak membosankan, saya suka belajar sastra. Yuk mbak nulis cerpen. hihihi

      Delete
  7. Sudah lama banget saya nggak nyerpen, Mba. Padahal awal terjun dunia tulisan ya nulis cerpen anak. Heheh. Baca ulasan Mba ini jadi nge-charge semangat saya lagi. :D

    ReplyDelete
  8. Tips nya oke oke banget, Mbak. Membuka wawasan bagi yang ingin coba menulis cerpen.

    ReplyDelete
  9. Ingin bisa menulis cerpen, semoga nantinya bisa. Terimakasih tipsnya, Mbak.

    ReplyDelete
  10. Oke nih tips nya. Jadi muppeng nulis cerpen yak

    ReplyDelete
  11. Bismillah deh saya juga mau coba nulis cerpen lagi, seperti mudah tapi yaaa gitu deh hehe

    ReplyDelete
  12. ada tips, ada contohnya.. kereenn banget mba.. masyaallah..

    ReplyDelete
  13. Menulis cerpen memang memiliki tantangan sendiri. Secara ya, kita harus merampungkan semua kisah dalam untaian kata yang pendek. Kadang ada yang merasa nggak cukup menceritakan semuanya.

    Seenggaknya memang ada tips-tips yang bisa menjadi panduannya.

    ReplyDelete
  14. ternyata bikin cerpen gak semudah itu ya, gak asal nulis bikin cerita. ada step dan strateginya juga. membantu sekali nih mba untuk aku yang pemula banget bikin cerpen yang bener

    ReplyDelete
  15. menulis cerpen itu ga gampang ya, enak bacanya hehehe, mau belajar nulis cerpen ah, nanti ajari lagi ya mbak May

    ReplyDelete
  16. Saya fokus dengan bahasa provokatif nih kak. Ternyata cerpen juga membutuhkan itu ya. Saya kira biarkan mengalir begitu saja

    ReplyDelete
  17. Auto nangis dong bacanya.inget ibu yang sekarang tinggal sendiri.semua anaknya gak ada yg rumahnya dekat πŸ˜”.

    ReplyDelete

Back to Top